SEJARAH GERAKAN RAKYAT
Pada masa penjajahan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak terdidik merupakan bangsa yang melakukan perlawanan kepada kolonial belanda dengan perang. Pada masa ini, cirri- cirri perjuangannya dapat dikatakan bersifat kedaerah, mesianis/ hanya tergantung pada satu pemimpin dan perlawanan akan berhenti apabila pemimpinnya diculik/dibunuh.
Perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat saat itu adalah perlawanan dalam bentuk perang. Perang yang dilakukan oleh masing- masing daerah seperti Perang Diponegoro, Perang Paderi dan perang yang lain terhadap kolonial Belanda ini membuat Belanda mengalami defisit keuangan. Hal ini membuat pihak Kolonial Belanda akhirnya memutuskan untuk melakukan Cultur stelsel yang membuat rakyat Hindia Belanda dipaksa untuk bekerja keras.
Pada Tahun 1899 seorang tokoh Belanda yaitu Van De Venteer mengeluarkan buku yang dicantumkan dalam majalah Belanda yang dalam bahasa Indonesia berjudul “Utang Budi”. Hal inilah yang mendasari pelaksanaan politik Etis pada tahun 1901- 1945. Belanda mulai mendirikan sekolah-sekolah dan memberikan beasiswa bagi anak kaum priyayi yang pintar dan ditempatkan di lapangan kerja Belanda. Inti dari politik etis adalah transmigrasi, irigasi dan edukasi. Walaupun berjudul utang budi, tetapi sebenarnya outputnya adalah sebagai buruh murah(tenaga kerja murah) bagi pihak Belanda. Satu sisi positif dari Politik Etis adalah melahirkan anak-anak haram seperti Soekarno dan yang lain.
Kesadaran untuk bersatu melawan penjajah dibuktikan dengan dibentuknya Serikat Dagang Islam, Boedi Oetomo (yang sampai saat ini kita peringati sebagai hari Kebangkitan Nasional), serta organisasi- organisasi lainnya.
Pada masa ini perjuangan melawan penjajahan melalui propaganda-propaganda melalui media dan kesadaran untuk bersatu dalam sebuah organisasi menjadi semakin kuat. Saat itu Tirto Adi Suryo (TAS) mendirikan Medan Prijaji sebagai media perlawanan.
Pasca pemberontakan PKI menimbulkan efek/ dampak seperti bertambahnya organisasi kepemudaan, perubahan atau peralihan cara berjuang pemuda dari gerakan rakyat menjadi gerakan politik. Gerakan politik yang dimaksud adalah para pemuda terjun ke dalam kancah perpolitikan di Nusantara dengan memakai lembaga ataupun organisasi. Semua hal yang terjadi saat itu tidak terlepas dari situasi Global yang mempengaruhi antara lain kemenangan Jepang terhadap Rusia, semangat Nasionalis yang terjadi di Cina oleh Dr. Sun yat Sen, serta perjuangan Mahatma Gandhi di India terhadap Inggris. Hal- hal tersebut meningkatkan semangat perlawanan pemuda Indonesia ex: PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) yang berperan serta dalam Kongres Pemuda 1928 dan Asrama Menteng 3(Chaerul Saleh, Sukarni dan Adam Malik).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar